Anakku,Temperamen.

Curhat part 2

“ihhh,,,kenapa ni mobi tidak bisa jalan? Kata Vio dengan ada geram.
“hiaaakh,,,,gak bisa jalannn,ih kubanting saja..” kata Vio sambil teriak-teriak.
“kenapa lagi Vio ma?setiap hari adaa saja yang dibanting?” ungkap ayah vio dengan heran.

Sudah tak terhitung mainan yang tambah rusak karena dibanting-banting oleh Vio. Tidak ada mainan yang utuh,sebab Vio sering melampiaskan kemarahannya pada mainannya. Begitulah Vio,setiap terjadi hal diluar kendalinya dan kehendaknya,kemarahannya meluap-luap tak terkendali. Dan ini bahkan terjadi setiap hari.
Ustadzah ,kami harus bagaimana dalam menangani anak kami tersebut?

Mama dan Papa yang dimuliakan Allah,ada langkah bijak pertama yang bisa kita upayakan. Yang pertama adalah mencari tahu apa yang menyebabkan anak marah. Penyebab kemarahan anak ada bermacam-macam diantaranya : ada hal yang tidak sesuai dengan harapannya,orang tua yang ingkar janji,cemburu karena saudaranya lebih diperhatikan oleh orang tua,dipaksa melakukan sesuatu,dan meminta perhatian dari orang tua.
Jika sudah jelas penyebab kemarahannya maka mudah bagi kita untuk menyikapinya. Kalau ia marah karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya,mintalah secara baik-baik agar anak melaporkan atau memberitahukan kepada orang tua atau orang dewasa lainnya.
Kita bisa mengatakan ,”Nak,nanti kalau mobilnya rusak atau mati,bilang sama papa ya. Biar papa liat dulu,nanti kalau dibanting lagi mobilnya malah tambah rusak lagi,….”
Kita harus berkompromi dengan orang satu rumah,entah tu pengasuh,eyang,kakek nenek ataupun yang lainnya agar kompak dan tidak mengeluarkan kata-kata negative seperti “masa begini saja ndak bisa?atau kamu payah,begitu saja nangis?
Dan sebaiknya,kata-kata negative bernada merendahkan itu diganti dengan kata-kata positif seperti ,”Bagus kamu sudah mencobanya,sekarang kesulitannya dimana?
Atau “ Coba ceritakan sama kakak,nanti coba kakak liat nanti kakak perbaiki.
Berikanlah kesempatan pada anak untuk bercerita sampai selesai,jangan dipotong,menyalahakan apalagi menyudutkannya. Anak bukanlah terdakwa yang tengah disidang dipengadilan. Ia merupakan sosok yang masih perlu belajar dan dibimbing,jadi wajar saja kalau masih melakukan kesalahan atau sulit melakukan sesuatu.
Selain itu,jangan menunda memberi respons,karena menunggu satu menit saja ,bagi anak itu ibarat menunggu satu jam.
Masing-masing kepribadian anak berbeda maka sebagai orang tua juga kita harus pintar-pintar “membaca” sifat dan gerakan nonverbal anak kita. Apakah anak kita sedang marah,sedih atau yang lainnya.
Mintalah anak kita bercerita,pun misalnya belum bisa maka tunggu sampai ia tenang. Kalau ia malah menangis maka tunggu saja sampai tangisnya reda. Biarkan emosinya keluar dan mereda,sehingga nantinya nyaman untuk bercerita.
Kunci berikutnya adalah sabar dan tenang. Anak-anak kita sedang belajar mengembangkan system emosinya. Nah jika kita ikut-ikut marah,anak akan belajar memelihara amarahnya bukan mengendalikan emosinya.

Sumber : buku ayah edy
“Hidup untuk belajar,belajar untuk hidup”