“ Kita ini Cinta Siapa?

“ Kita ini Cinta Siapa?

“Dijadikan Indah dalam (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini,yaitu wanita-wanita,anak-anak,harta yang banyak dari jenis emas,perak kuda pilihan,binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ,dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik” (Qs. Ali Imran: 14)
“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka,dalam keadaan kafir”( Qs. At Taubah: 85)

Anak adalah anugerah besar yang Allah titipkan kepada kita. Apalagi jika yang dinantikan adalah anak pertama setelah bertahun tahun menunggu. Semua harta benda ,jiwa raga akan semua kita korbankan untuk anak kita. Bahagianya anak kita adalah bahagia kita,sakitnya anak kita adalah sakitnya kita.
Tak jarang kita menuruti semua permintaan anak,tak tega rasanya melihat anak kita menangis. Hanya sekedar minta jajan saja,kalau kita tidak bisa menuruti,ada perasaan sedih yang luar biasa. Kita berusaha memberikan semua yang terbaik,sekolah yang baik,pakaian yang baik,mainan yang baik,semua hal yang baik.
Apakah hal ini salah? Tentu tidak ,yang salah adalah ketika dititipi amanah seorang anak,kita tidak merawat dengan baik,memberi nama yang baik,atau bahkan memikirkan pendidikan yang baik.
Namun yang perlu diingat adalah,bahwa jangan sampai karena saking cintanya kita pada anak,membuat mereka menjadi anak yang manja. Kasih sayang pada anak adalah sebuah kewajiban dan keharusan,namun jika berlebihan hal inilah yang tidak boleh. Kita tahu ada teladan yang bisa kita contoh yakni Nabi Allah Ibrahim A.S
Dalam keadan yang sudah tua renta Nabi Ibrahim diberi karunia dua orang anak yakni Ishak dan Ismail. Allah mengujinya,apakah Nabi Ibrahim lebih mencintai anaknya atau menaati perintah Allah. Bukankah ini ujian yang sangat besar,bagaimana mungkin seorang anak yang ia nantikan selama berpuluh-puluh tahun harus ia korbankan untuk disembelih?Maha besar Allah,Allah pun memberikan karunia yang besar sebab mengetahui kerelaan Nabi Ibrahim,dan kecintaan pada Allah yang mengalahkan cintanya pada Anak.
Nabi Muhammad melarang kita menuruti semua kamauan anak dan memanjakannnya. Berikut Sabda Nabi:

“ Dari Khaulat binti Hakim,Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya anak akan membuat bakhil,pengecut,membodohkan dan menyedihkan”
Bayan(maksudnya) adalah
• bahwa anak membuat kita menjadi bakhil dengan harta yang kita miliki sehingga tidak menafkahkannya kedalam kebaikan yang lain. Sebab yang sudah terfikirkan adalah hanya untuk anak,untuk anak,dan untuk anak.
• Menjadikan kita Majbanah (Pengecut),tidak berani memberikan keputusan tegas. Misalnya disekolah tidak boleh membawa mainan dari rumah,bisa jadi kita akan tetap membawakan mainan dari rumah karena kasihan.
• Menjadikan kita Maj,halah ( bodoh),sebab menjadikan kita mempunyai alasan tak punya banyak waktu untuk mencari ilmu. Misalnya saja ada pengajian rutin ibu-ibu,kita sering tidak datang sebab alasannya sibuk ngurus anak.
• Dan yang terakhir adalah membuat kita Mahzanah ( menyedihkan) atau sering membuat sedih. Misalnya saat sakit,saat tidak bisa memberikan apa yang anak kita mau.
Apa yang tersebut diatas adalah hal yang kita alami dan rasakan. Sebab sumbernya adalah dari rasa kasih sayang dan kasihan kepada anak kita. Wajar dan lumrah namun jangan sampai berlebihan. Ada kalanya kita juga marah,dan tegas terhadap perbuatan yang perlu ia kerjakan.
“Dan ketahuilah,bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar.”(Qs. Al Anfaal:28)
Dan memang benar ayat Allah itu bahwa anak adalah cobaan. Kita akan menjadikan anak kita sebagai anak yang seperti apa,apakah majusi,nasrani atau akan menjadi muslim sejati.
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Saw memerintahkan untuk menggantungkan cemeti(tongkat untuk memukul) dirumah. Rasulullah Saw tidak menginginkan bahwa kecintaan kita kepada anak ,membuat kita menuruti kemauannya secara berlebihan. Sebab anak akan melakukan apasaja yang dia inginkan dan bertindak semaunya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah sebuah kesalahan besar pada anak.
Rasulullah Saw bersabda,” Ingatlah! Tidak boleh seseorang melakukan tindakan kejahatan kecuali pada dirinya. Tidak boleh seorang ayah melakukan kejahatan pada anaknya,dan tidak boleh seorang anak melakukan kejahatan pada orang tuanya.”
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah,kita wajib berkasih saying apada anak namun tidak berlebihan. Ingat bahwa anak,istri dan harta adalah ujian kita didunia agar Allah tahu siapa diantara hambanya yang bertaqwa. Sebab apapun harus kita pasrahkan pada Allah,cinta kita pada anak adalah wujud kecintaan kita pada Allah. Berjalannya kita dibumi ini entah itu kita bekerja,berladang,atau berdagang adalah wujud kepatuhan kita pada Allah.
Yuk terus belajar,bahwa belajar itu bukan hanya dibangku sekolah tapi juga belajar memahami ayat-ayat Allah lewat hidup.
Wallahualam bissowab… Segala ilmu adalah milik Allah ,kebenaran datangnya dari Allah.
Diambil dari buku “Cara Nabi Menyiapkan Generasi” Penulis Jamal Abdurrahman dan beberapa tambahan.

“ Hidup untuk belajar,belajar untuk hidup”
Siti Yuliana.