ïlmu
“ Mencari Ilmu adalah wajib bagi muslimin dan muslimat”
“ Carilah ilmu walau sampai kenegeri Cina” Read more
“ Mencari Ilmu adalah wajib bagi muslimin dan muslimat”
“ Carilah ilmu walau sampai kenegeri Cina” Read more
“ Kita ini Cinta Siapa?
Setiap hari terdengar kegaduhan dalam rumah Ibu Ani. Kegaduhan ini bersumber pada kemarahan Ibu Ani kepada Dani ,anak laki-laki keduanya. Penyebabnya adalah Dani tidak mau sesegera mungkin pergi mandi. Tak jarang hal ini berlangsung setiap hari saat pagi dan sore hari. Ibu Ani akan selalu menggendong Dani masuk kamar mandi,dan seperti biasa Dani akan terus menerus menangis sampai selesai mandi.
Wah seru ya,,jika setiap hari seperti ini…heheheh… 😀 . Tapi apa iya kita sebagai orang tua mau hal ini terjadi setiap hari???(Tanya pada rumput yang bergoyang……hehehe… : D). Apalagi kalau hari libur ya….hehehehe..Yuk belajar.
Read more
Assalamualaikum, bagaimana kabarnya teman-teman masih kuat puasanya sampai hari ini? Alhamdulillah ada yang puasa bedhuk, ada yang kuat sampai ashar, ada yang kuat sehari dan ada pula yang bertahan sampai jam 10 pagi. heheh namanya juga anak-anak masih latihan. Tulisan kali ini adalah akan membahas tentang bagaimana mengajarkan sikap, pertanyaanya adalah kenapa nilai-nilai pelajaran Agama, Pancasila yang notabene wajib diseeluruh jenjang pendidikan di Indonesia tetapi perilaku anak-anak didiknya masih banyak yang melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh para pelajar? seperti narkoba, tawuran, seks bebas, mencontek dan tindak kejahatan lainya.
Ternyata mengajarkan nilai Agama, Pancasila tak cukup hanya secara teoritis saja, mungkin matematika bisa diajarkan secara teroritis. Oleh sebab itu untuk pelajaran nilai-nilai moral indikator yang harus dicapai adalah tidak hanya siswa tahu apa, tetapi siswa dapat melakukan apa. Kalau bahasa dunia pendidikan tidak hanya level remember atau mengingat tetapi sampai puncak yaitu create.
Mengajarkan sikap memerlukan usaha lebih dibanding hanya sekedar teori, mengajarkan sikap perlu keteladanan dari guru, lingkungan sekolah dan bahkan keluarga yang menjadi sangat vital dalam pembentukan karakter anak. Istilah kerenya adalah childern see childern do! Dibulan Ramadhan santri SD Qu Hanifah mengadakan kegiatan market ramadhan dan bagi takjil kepada masyarakat sekitar. Alhamdulillah anak-anak sangat antusias dan bahagia dalam berbagi meskipun ada yang mengeluh capek karena harus jalan kaki mengitari warga Gemah.
Harapanya kegiatan ini bisa meman
cing anak untuk selalu mudah berbagi kepada yang lain, kita ingat pesan M.Gandhi bahwa “Dunia seisinya ini sebenarnya cukup untuk semua manusia hanya karena salah satu merasa rakus menjadikan dunia seiisinya ini menjadi tidak cukup” Oleh sebab itu semoga generasi-generasi yang lagi kita bangun ini mampu mengembalikan fitrah manusia menjadi khalifah di muka bumi. Aamiin
“Meski ibu menderita kesakitan ketika melahirkan anak, janin mendobrak keluar dari penjaranya. Sebelum sang ibu merasakan kesakitan ketika melahirkan, anak tidak menemukan jalan untuk dilahirkan…
Rasa sakit itu penting, sebab ia akan membuka jalan bagi si anak” Jalaludin Rumi, Mastnawi III
Kita mungkin tidak pernah tahu, atau tidak pernah memikirkannya, bagaimana hasilnya nanti ketika kita sebagai orang tua & guru menebarkan kebajikan melalui pendidikan karakter yang kita berikan kepada anak-anak/murid-murid kita. Namun, dari sekian banyaknya benih-benih yang kita semai, walaupun hanya satu yang tumbuh, namun yang satu ini menjadi sebuah pohon kebajikan, maka manfaat yang diperoleh mungkin bisa luar biasa. Seperti digambarkan dalam sebuah ayat dalam Al Quran: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (perbuatan kebajikan) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir 100 biji.” (QS 2: 261). Bayangkan apabila setiap guru yang penuh cinta dan keikhlasan dapat berhasil menyemai 20 sampai 30 benih setiap tahunnya, Indonesia akan menjadi hutan kebajikan karena dipenuhi oleh pohon-pohon kokoh dan bermanfaat. Insya Allah.
Oleh: Ratna Megawangi
SD Qu Hanifah
ILMI FOUNDATION
Metode Komunikasi Efektif & Disiplin Positif
Anak-anak jangan pada lari! teriak ibu wali kelas, tetapi apa yang terjadi anak-anak justru pada berlarian. Jangan dimakan, apa yang terjadi? malah dimakan. Bahkan sampai level pemerintahan, pernah lihat iklan ditelevisi yang menyuarakan anti korupsi? yang isinya “Katakan TIDAK untuk Korupsi! tetapi sekali lagi apa yang terjadi? beberapa dari aktor iklan tersebut malah terjerat kasus korupsi. Kenapa? kalau kita kembali pada prinsip kerja otak, ternyata memori yang tersimpan adalah kata-kata yang terkahir. Pernah bertanya kepada anak kecil, tahu atau tempe? anak pasti menjawab tempe, dan sekarang pertanyaanya dibalik tempe atau tahu? anak akan menjawab tahu. lantas bagaimana agar komunikasi kita efektif dan bisa mendisiplinkan positif sejak dini? berikut tips-tips dari Wahyu Farrah Dina
Read more
Lebih Baik Menyalakan Cahaya
Oleh : Hudi Hermawan, S.Pd.
Semasa menjadi mahasiswa saya lebih suka aktif kegiatan diluar kampus salah satunya adalah progam andalan yaitu “Go To School” yaitu sebuah progam berkunjung langsung ke sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruang Tinggi. Entah kenapa meskipun saya jurusan teknik tetapi lebih suka terjun kedunia pendidikan anak. Sejak semester 2 saya sudah aktif berkunjung ke berbagai sekolah yang ada di sekitar Semarang, sampai ketika lulus kurang lebih sudah ada 50an sekolah yang saya kunjungi termasuk yang paling jauh dan plosok dan belum ada listrik sepenuhnya yaitu desa Lengkong-Jember dan Pulo Panjang Banten. Sungguh pengalaman luar biasa ketika bisa melihat dan belajar langsung bagaimana kondisi pendidikan yang ada.
Read more
Ibn Jazzar Al-Qairawani mengungkapkan “Sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan berasal dari fitrah. Tetapi timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidiknya. Semakin dewasa , semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut. Banyak orang dewasa menyadari sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya, karena sifat tersebut sudah mengakar didalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit di hilangkan”.
SD Qu Hanifah