Paradok “GRATISAN”

Memberi adalah suatu perbuatan yang sangat mulia, baik itu yang sifatnya materi seperti uang, baju, makanan dan seterusnya sedangkan memberi yang sifatnya i-materi adalah seperti memberikan bantuan tenaga, pemikiran dan seterusnya. Tulisan kali ini merupakan curhatan berupa “paradok gratisan” yang pernah saya alami dan ternyata hal ini juga berlaku bagi bangsa kita tercinta. Maksudnya bagaimana? bingung? bagus berarti anda membaca dengan fikiran dan perasaan, langsung saja begini ceritanya:
Read more

Sebenarnya tidak belajar sejarah?

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamualaikum para pembaca setia website SD Qu, semoga Allah senantiasa memberikan rahmat kepada kita semua, Aamiin.

Tulisan kali ini mengangkat tema “Sebenarnya pendidikan kita tidak mendidik belajar dari sejarah” Kenapa? sebentar sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada pertanyaan yang mungkin masih diingat ketika kita duduk dibangku sekolah dasar.

Jawablah pertanyaan dibawah ini!

1. Tahun berapa Indonesia merdeka?

2. Siapakah presiden pertama kali di Indonesia?

3. Dimanakah terjadinya pertempuran hebat pada tanggal 10 November?

dsb
Read more

Tanam bibit unggul agar panen pemimpin unggul!

Sering sekali kita mendengar bahwa bangsa ini dengan sumber kekayaan alam (SDA) yang sangat melimpah bahkan bisa dikatakan SDA bangsa ini merupakan terkaya di dunia, tetapi apakah dengan SDA terkaya didunia tersebut sebanding dengan kesejahteraan seluruh masyarakat bangsa ini? ada yang menjawab iya, ada pula yang mengatakan tidak. Kenapa? karena hanya segelintir orang dan kelompok tertentu yang menikmatinya sedangkan masyarakat umum masih banyak yang belum merasakan kesejahteraan yang mestinya diharapkan. Kenapa SDA yang begitu luas tetapi hanya segelintir orang yang menikmati? saya ingat pesan M.Gandhi, berikut pesanya “Sebenarnya dunia seisinya itu cukup untuk semua penghuninya tetapi karena ada satu saja orang yang serakah menjadikan dunia seisinya ini menjadi tidak cukup
Read more

Kalau mau siswanya rajin belajar, mestinya gurunya juga?

Masih ingat dengan pelajaran hukum aksi=reaksi? tentu. Hukum tersebut berlaku tidak hanya pada rumus fisika semata tetapi melainkan seluruh kehidupan ini berlaku hukum aksi=reaksi. Contoh sederhana adalah ketika kita membenci teman kemudian memukul apa yang terjadi? teman tersebut akan balik memukul kita atau paling tidak teman kita tersebut balik membenci kita, begitupula sebaliknya jika kita baik kepada orang lain maka orang lain pun akan baik dengan kita. Pertanyaanya adalah ketika kita sebagai guru mengiginkan anak didik kita rajin belajar maka apa yang harus dilakukan seorang guru? betul, sebagai seorang guru kita tidak boleh berhenti belajar karena ilmu itu sangat luas dan terus mengalami perkembangan.
Read more

Mendidik menjadikan anak hormat dan santun saja tidak cukup

Kesan pertama saat kita melihat saat menilai seseorang adalah melalui penampilan dari luarnya; baik lewat tutur katanya yang santun, atau perilaku sopan dan hormat, yang sesuai dengan norma-norma yang ada dimasyarakat.

Namun, penampilan luar saja tidak cukup. Perilaku sopan santun kadang kala dapat menipu kita. Bahkan, banyak para penipu ulung yang perilakunya sangat hormat, tutur katanya memikat, tetapi apa yang ada didalam hatinya adalah rencana untuk mencelakakan orang lain.
Read more

Generasi Berkarakter “Si Kancil”

Ingat dongeng “Si Kancil“? Tentu. Hampir semua orang Indonesia pasti pernah mendengarnya. Walaupun banyak versi tentang dongeng ini, namun ada seperangkat karakter yang dominan pada sosok si kancil, yaitu si kancil adalah binatang yang cerdik, nakal, licik, suka mencuri, pintar berkelit, dan penipu ulung. Anehnya, pesan yang disampaikan dalam beberapa versi dongeng ini bernuansa netral, bahkan cenderung menjadikan tokoh si kancil sebagai hero, terlepas dari berbagai kelicikanya yang dibuatnya.
Read more

Mencari jawaban “What’s Wrong?”-Part 2

Kemarin sudah dijelaskan sebuah landasan filosofis sederhana bahwa apa yang kita tanam maka itulah yang kita panen, kita menanam biji jagung maka kita akan memanen jagung. kalau sekarang yang kita lihat dan kita rasakan para pemimpin melakukan korupsi, terjadinya kekerasan dan sebagainya berarti dahulu ada yang menanam biji korupsi, kekerasan dan sebagainya. Lantas siapa yang menanam atau yang salah menanam? tentu kita tidak perlu saling menyalahkan

dan tak seharusnya membahas hal tersebut, yang akan dibahas dalam artikel ini adalah mencari jawaban “What’s Wrong?” sehingga nantinya dapat menemukan bagaimana memperbaikinya.

kemarin sudah dibahas bahwa ketika anak dalam kondisi merasa negative emotions (merasa paling benar, gelisah, galau, stress, terancam, direndahkan, putus asa, merasa rendah diri dsb)  dari mana negative emotions ini muncul? ada 3 penyebab yaitu 1) salah asuh, 2) salah didik disekolah, 3) lingkungan, maka akan muncul Neurosis yang akan mengakibatkan nurati dan empati tidak berkembang sehingga ketika dewasa maka yang akan muncul adalah sifat perilaku negatif (sombong, iri, dengki, hasut, pemarah, agresif, pembohong dll).
Read more

Mencari jawaban, “What’s wrong?”

Mencari jawaban, kenapa sering sekali terjadi aksi tawuran oleh pelajar, minuman keras, narkoba, seks bebas, bahkan dikalangan orang yang lulus dari pendidikan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme? padahal anggaran pendidikan sudah tinggi 20% dari APBD negara, pelajaran agama wajib pada semua jenjang pendidikan, termasuk pendidikan pancasila dari SD sampai perguruan tinggi juga diwajibkan, kurikulum berganti-ganti, kenapa? apa yang salah terhadap sistem pendidikan di Indonesia?

Ini jawabanya : Read more

3 Komponen untuk anak sukses dimasa depan

Satu pelajaran yang sangat penting yang bisa kita ambil dari pengalaman Indonesia yaitu pembangunan manusia atau SDM masih relatif dikesampingkan atau paling tidak dinomorduakan, meskipun anggaran pendidikan sudah tinggi yaitu 20% dari APBD negara. Hal ini bisa kita lihat dari fungsi strategis pembangunan karakter bangsa belum terlihat, dimana anak-anak yang bersekolah justru melakukan berbagai tindakan yang mencerminkan anak tidak berpendidikan seperti tawuran, minuman keras, narkoba dan tindak kejahatan lainya.

 

Oleh sebab itu diperlukan pembelajaran di sekolah yang tidak hanya sekedar anak mengingat pelajaran tetapi lebih dari itu bisa membentuk akhlak seperti kejujuran, kedisiplinan, dan integritas yang memegang peranan amat penting bagi jalanya sistem sosial yang baik. Pembentukan kecerdasan dan kemampuan anak penerus bangsa sangat ditentukan oleh sistem pembelajaran semasa usia dini dan di pendidikan dasar, masa dimana kecerdasan anak secara optimal bisa dibentuk. Peran pendidik, keluarga, dan lingkungan memegang kunci yang menentukan kesuksesan bagi anak dimasa depan.anak hebat

Kerjasama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan mutlak dibutuhkan demi kesuksesan anak dimasa depan, insyaAllah akan mampu mengangkat kemajuan untuk bangsa dan masyarakat Indonesia.

Yayasan Islam Lu’Lu’ul Maknun Indonesia (ILMI)

SD Qu Hanifah

Kisah Islam Mantan Bintang Pop Terkenal ‘Yusuf Islam’

Kisah seorang artis yang bernama Cat Stevens yang (alhamdulillah) menjadi seorang muslim, kemudian ia dipanggil dengan nama Yusuf Islam. Inilah kisahnya seperti yang ia ceritakan, kami menukilnya secara ringkas.

“Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu. Read more

1 8 9 10 11